Pernah suatu hari.. Ada seseorang yang bertanya padaku "apa kamu siap membuka hati untuk seseorang yang baru? Memulai lagi sebuah hubungan dengan orang yang baru? Berusaha untuk memahami karakter orang yang baru? Dan intinya adalah siapkah kamu untuk jatuh hati lagi?"
And the answer is :
Aku tidak pernah menutup hati untuk siapapun.. Hanya saja butuh waktu untuk mengganti seseorang yang pernah ada dihati dengan seseorang yang baru, karakter yang baru, sifat yang baru, menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan yang baru. Keluar dari zona nyaman tidak semudah itu. Terkadang biarpun sakit melihat orang yang kita sayang ternyata baik baik saja tanpa kita, kita masih tetap bertahan dengan rasa yang sama. Tidak peduli apakah itu sangat menyakiti perasaan kita. Yang kita tau hanyalah aku sayang dia dan aku bahagia melihat nya bahagia.
Pertanyaan yang kedua : "apa kamu sudah move on dari masa lalu? Apakah kamu sudah melupakan dia yang pernah ada dihatimu?"
Dan jawaban saya :
Move on bukan tentang apakah aku sudah melupakan dia atau belum. Tapi soal apakah aku sudah ikhlas dengan kepergian dia yang menyisakan luka. Mungkin saat kita bilang "gue udah move on" percayalah itu hanya dimulut saja. Karna aku butuh waktu bertahun tahun untuk mengikhlaskan apa yang telah pergi dari hidupku. Entah itu aku yang melepaskannya untuk pergi atau dia memutuskan untuk pergi. Bagiku sama saja. Ini hanya soal ikhlas dan memaafkan.
Pertanyaan yang ketiga : "kenapa kamu memutuskan untuk pergi dari hidup nya? Padahal kamu sayang dengan nya? Apa kamu menemukan yang lain?"
Jawaban saya :
Saya memutuskan pergi dari hidupnya bukan karna saya tidak sayang. Bukan karna saya menemukan yang lain. Tapi karna saya tau dia akan lebih bahagia tanpa saya. Entah benar atau tidak, saya rasa itu yang terbaik. Sekarang, saya yang bertanya, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kamu sayang pergi dengan lawan jenis tanpa memberitahumu? Walaupun kamu sudah meminta kejujurannya?
Dia menjawab :
Kesel lah pasti. Buat apa mempertahankan orang yang tidak jujur. Buat apa sayang sama orang yang ternyata dia masih menyimpan rasa untuk orang lain? Mending di udahin aja. Berat sih emang karna gue sayang. Tapi hubungan yang tidak jujur, akan menghadirkan ketidak jujuran yang lainnya.
Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Dia tau apa yang saya rasakan. Dia paham bagaimana perasaan saya. Lalu saya bilang padanya :
Saya tidak mempermasalahkan dia jalan dengan lawan jenis. Tapi saya mempermasalahkan ke tidak jujurannya. Mungkin saya bisa bertahan sebentar lagi jika saya sabar. Tapi rasanya saya tidak sanggup. Rasanya sakit. Rasanya menyayat hati. Membayangkan senyum yang dia berikan untuk saya, dia berikan juga kepada yang lain.
Dia diam. Dia menunduk. Dan dia bilang "kalau kamu belum siap, tolong jangan sakiti dirimu sendiri dengan melihat fotonya, membaca chat lamanya, tersenyum ketika kamu melihat doa di sosial media. Itu bukan senyum bahagia. Itu senyum yang paling menyakitkan. Siapkan hatimu, siapkan diri mu untuk seseorang yang lebih baik lagi yang disediakan Tuhan untuk kamu. Saya rasa sekarang saatnya kamu untuk lebih dekat dengan Tuhan."
Saya tersenyum. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya jadikan ini pelajaran. Biarlah yang lalu menjadi kenangan. Entah kenangan yang Indah atau yang buruk. Setidaknya saya pernah membuat dia bahagia berada disisi saya. :)
Terima kasih
Created : murni hartanti
And the answer is :
Aku tidak pernah menutup hati untuk siapapun.. Hanya saja butuh waktu untuk mengganti seseorang yang pernah ada dihati dengan seseorang yang baru, karakter yang baru, sifat yang baru, menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan yang baru. Keluar dari zona nyaman tidak semudah itu. Terkadang biarpun sakit melihat orang yang kita sayang ternyata baik baik saja tanpa kita, kita masih tetap bertahan dengan rasa yang sama. Tidak peduli apakah itu sangat menyakiti perasaan kita. Yang kita tau hanyalah aku sayang dia dan aku bahagia melihat nya bahagia.
Pertanyaan yang kedua : "apa kamu sudah move on dari masa lalu? Apakah kamu sudah melupakan dia yang pernah ada dihatimu?"
Dan jawaban saya :
Move on bukan tentang apakah aku sudah melupakan dia atau belum. Tapi soal apakah aku sudah ikhlas dengan kepergian dia yang menyisakan luka. Mungkin saat kita bilang "gue udah move on" percayalah itu hanya dimulut saja. Karna aku butuh waktu bertahun tahun untuk mengikhlaskan apa yang telah pergi dari hidupku. Entah itu aku yang melepaskannya untuk pergi atau dia memutuskan untuk pergi. Bagiku sama saja. Ini hanya soal ikhlas dan memaafkan.
Pertanyaan yang ketiga : "kenapa kamu memutuskan untuk pergi dari hidup nya? Padahal kamu sayang dengan nya? Apa kamu menemukan yang lain?"
Jawaban saya :
Saya memutuskan pergi dari hidupnya bukan karna saya tidak sayang. Bukan karna saya menemukan yang lain. Tapi karna saya tau dia akan lebih bahagia tanpa saya. Entah benar atau tidak, saya rasa itu yang terbaik. Sekarang, saya yang bertanya, bagaimana perasaanmu ketika melihat orang yang kamu sayang pergi dengan lawan jenis tanpa memberitahumu? Walaupun kamu sudah meminta kejujurannya?
Dia menjawab :
Kesel lah pasti. Buat apa mempertahankan orang yang tidak jujur. Buat apa sayang sama orang yang ternyata dia masih menyimpan rasa untuk orang lain? Mending di udahin aja. Berat sih emang karna gue sayang. Tapi hubungan yang tidak jujur, akan menghadirkan ketidak jujuran yang lainnya.
Saya tersenyum. Hanya tersenyum. Dia tau apa yang saya rasakan. Dia paham bagaimana perasaan saya. Lalu saya bilang padanya :
Saya tidak mempermasalahkan dia jalan dengan lawan jenis. Tapi saya mempermasalahkan ke tidak jujurannya. Mungkin saya bisa bertahan sebentar lagi jika saya sabar. Tapi rasanya saya tidak sanggup. Rasanya sakit. Rasanya menyayat hati. Membayangkan senyum yang dia berikan untuk saya, dia berikan juga kepada yang lain.
Dia diam. Dia menunduk. Dan dia bilang "kalau kamu belum siap, tolong jangan sakiti dirimu sendiri dengan melihat fotonya, membaca chat lamanya, tersenyum ketika kamu melihat doa di sosial media. Itu bukan senyum bahagia. Itu senyum yang paling menyakitkan. Siapkan hatimu, siapkan diri mu untuk seseorang yang lebih baik lagi yang disediakan Tuhan untuk kamu. Saya rasa sekarang saatnya kamu untuk lebih dekat dengan Tuhan."
Saya tersenyum. Hanya itu yang bisa saya lakukan. Saya jadikan ini pelajaran. Biarlah yang lalu menjadi kenangan. Entah kenangan yang Indah atau yang buruk. Setidaknya saya pernah membuat dia bahagia berada disisi saya. :)
Terima kasih
Created : murni hartanti
Komentar
Posting Komentar