Langsung ke konten utama

Pertemuan Singkat

pagi ini, angin berhembus menerbangkan helaian rambutku. saat ini, aku berdiri ditepi hamparan laut luas nan indah ditemani cahaya matahari yang masih malu-malu menunjukkan wujudnya. melihat betapa tenang ombak menerpa tepinya menyentuh jari-jari kakiku.

andai.. andai saja aku bisa membuang memory kejadian masalalu ku bersamaan dengan ombak yang terbentang luas dilautan.

"sendirian aja?"
"gak baik loh, cewek sendirian ditepi pantai, apalagi sambil nangis" aku tetap diam

"saya temani sampai kamu lega dan berhenti menangis" aku menangis. menangisi masa lalu yang tak dapat terulang. sungguh miris memang. untuk apa mengingat masalalu yang tak seharusnya aku ingat.

"menangislah sampai kamu puas, tapi setelah ini tolong jangan buang air matamu untuk kesekian kalinya untuk hal yang sama seperti ini. karna, kamu harus tau ari mata mu lebih berharga dari dia yang telah menyakitimu" aku menoleh padanya, memperhatikannya yang menatap lurus kedepan.

"terima kasih" aku tersenyum. lega memang rasanya bisa berbagi. walaupun aku hanya menangis dan dia mendengar tangisanku bukan ceritaku.

"untuk apa? untuk mendengar suara tangisanmu yang tidak ada merdunya itu?" dia tertawa kecil

"yaa... untuk nasihatmu dan menemaniku walaupun aku tidak tau kenapa kamu mau menemani ku?" aku masih memperhatikannya. dia tampan, rahangnya tegas, dan ada lesung pipi disetiap dia berbiacara ataupun tersenyum

"saya tidak menemanimu, jangan kepedean dulu. saya hanya tidak suka melihat seorang wanita menangis. sama seperti seakan saya melihat ibu saya menangis" dan ternyata dia sangat menyayangi Ibunya.

"ya, apapun itu apapun alasanmu, terima kasih sekali lagi" aku tersenyum.

"lain kali, tolong jangan nangis dipinggir pantai karna kamu tidak tau jikalau nanti kamu tiba tiba berjalan kearah tengah-tengah laut" dan dia pergi.
Dia pergi tanpa aku tau siapa pria itu, siapa namanya, dan dimana dia tinggal saat ini.

aku tau, mungkin dia hanya sebagian kecil dari jutaan orang baik hati yang akan mendatangi dan menasehatiku juga karna aku menangis dipagi hari.

terima kasih hai pria tampan, mulai sekarang aku tidak akan menangis lagi. menangis untuk hal yang sama untuk kesekian kalinya. menangis untuk hal yang tidak akan bisa terulang lagi. terima kasih karna kamu mampu membuat aku tersenyum hanya dengan perkataan dan sikapmu yang acuh.

semoga ini bukan pertemuan singkat kita, semoga masih ada pertemuan ketidaksengajaan dilain waktu.

Komentar