Dear kamu yang aku rindukan..
Saat aku menulis ini, yang ada dipikiranku adalah "kamu apa kabar? Apa kamu baik baik saja? Apa kamu makan dengan benar? Apa tidur mu nyenyak kemarin malam? Dan apakah kamu merindukan aku seperti aku merindukan mu dalam diamku" lucu memang, aku rasa kamu memang baik baik saja bahkan terlihat sangat bahagia walaupun tanpa aku.
Saat aku menulis ini, tak ada rasa penyesalan di hatiku, entah itu rasa penyesalan atas keputusanku untuk pergi meninggalkan mu, atau rasa penyesalan karna aku pernah mencintaimu bahkan masih.
Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu sama sekali tidak. Dan aku juga tidak akan mengusikmu.
Taukah kamu? Hanya melihat notif online mu di aplikasi Whatsapp saja, aku sudah sangat bahagia. Iya! Sebahagia itu. Aku tersenyum, dan terus memperhatikan sampai kamu tidak lagi online di aplikasi itu. Haha terdengar bodoh bukan? Dan terkesan seperti aku belum bisa move on. Iya memang aku belum bisa move on. Lantas, itu bukan masalah kan untuk mu?
Saat aku tidak bisa menemukan satu notif dari mu, rasanya itu seperti... "Apa aku sudah diblock oleh mu? Apa kamu sudah unfollow aku? Apa kamu sibuk?"
Berpura pura untuk tidak peduli itu sangat sakit. Saat aku tau kamu butuh teman untuk berbagi cerita keluh kesah mu selama kerja tapi aku tidak bisa mendengarkan semua celotehan mu lagi. Saat aku menenangkan emosi mu yang walaupun tidak meledak tapi aku tau kalau kamu hanya butuh didengarkan.
Hai kamu. Ingat kah kamu? Saat aku selalu bilang "aku rindu" dan dengan ajaib nya kamu bilang "jangan. Berat. Kaya kamu" hahaha aku masih selalu tertawa bahkan tersenyum saat kembali membaca semua pesan pesan kita yang lalu. Iya! Aku masih menyimpannya. Bahkan foto kebersamaan kita. Aku masih simpan dengan rapi.
Kamu tau? Saat aku membaca pesan pesan kita yang lalu, dari awal kita memulai percakapan sampai akhirnya kita pisah, aku tertawa, aku tersenyum, dan aku menangis sendiri. Tuh kan. Aku mulai nangis.
Aku ingat, waktu aku nangis di bahu kamu, aku tutup muka ku dengan kedua tanganku. Kamu hanya terus bertanya "kamu kenapa" aku hanya menggelengkan kepala dan menangis. Kamu cium kepala aku, dan kamu bilang "mau denger cerita lucu gak?" aku hapus air mata ku. Dan kamu bilang "pas lagi sedih tadi, mbak mbak itu pas nangis maskaranya luntur, udah tau lagi sedih jadi gabisa ikut sedih jadi pengen ketawa karna liat maskaranya luntur" kamu tertawa. Dan aku ikut ketawa.
Terima kasiih.. Terima kasih karna kamu berusaha untuk membuat aku senyum membuat aku bahagia.
Kamu juga harus tau. Cuma kamu satu satunya laki laki yang aku kenalkan sama orang tua dan saudara saudara aku. Bahkan sahabat aku pun bilang "lo kenapa? Lo kan anti ngenalin cowok ke orang tua lo. Kok lo aneh" iya ya? Aku ga pernah kenalin laki laki ke orang tua apalagi aku bilang "dia pacar ku" tapi kamu satu satunya yang aku kenalin. Hehe berarti kamu tau kan betapa spesialnya kamu di hidup aku.
Dibanding dengan temen temen aku yang lain. Saat orang tua ku tanya "itu siapa?" aku selalu jawab "temen" dan selalu sama jawabnya temen. Kenapa saat aku kenalin kamu ke orang tua, aku bilang kamu pacar aku? Karna aku serius sama kamu. Karna bagi aku, kamu bisa bikin aku seneng bikin aku bahagia. Hehe just simple like that.
Tapi sekarang, aku cuma bisa doain kamu dari jauh. Jangan benci aku, aku mohon. Aku gabisa liat orang yang aku sayang, benci sama aku. Serius, aku sayang kamu. Belum berubah dan belum berkurang. Masih sama seperti pertama kali aku bilang "jangan sia siain kepercayaan yang udah gue kasih"
Last but not least
Hai kamu. Terima kasih pernah mewarnai hidup ku dengan penuh kebahagiaan. Terima kasih karna aku tau kalau kamu sayang aku dengan semua sikap manis mu. Terima kasih karna selalu berusaha membuat aku tertawa apapun kondisi ku. Dan maaf, atas keputusanku yang mungkin membuat mu jadi benci dengan ku.
Aku sayang kamu.
Ttd
-yang pernah mengisi harimu-
Murni
Saat aku menulis ini, yang ada dipikiranku adalah "kamu apa kabar? Apa kamu baik baik saja? Apa kamu makan dengan benar? Apa tidur mu nyenyak kemarin malam? Dan apakah kamu merindukan aku seperti aku merindukan mu dalam diamku" lucu memang, aku rasa kamu memang baik baik saja bahkan terlihat sangat bahagia walaupun tanpa aku.
Saat aku menulis ini, tak ada rasa penyesalan di hatiku, entah itu rasa penyesalan atas keputusanku untuk pergi meninggalkan mu, atau rasa penyesalan karna aku pernah mencintaimu bahkan masih.
Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu sama sekali tidak. Dan aku juga tidak akan mengusikmu.
Taukah kamu? Hanya melihat notif online mu di aplikasi Whatsapp saja, aku sudah sangat bahagia. Iya! Sebahagia itu. Aku tersenyum, dan terus memperhatikan sampai kamu tidak lagi online di aplikasi itu. Haha terdengar bodoh bukan? Dan terkesan seperti aku belum bisa move on. Iya memang aku belum bisa move on. Lantas, itu bukan masalah kan untuk mu?
Saat aku tidak bisa menemukan satu notif dari mu, rasanya itu seperti... "Apa aku sudah diblock oleh mu? Apa kamu sudah unfollow aku? Apa kamu sibuk?"
Berpura pura untuk tidak peduli itu sangat sakit. Saat aku tau kamu butuh teman untuk berbagi cerita keluh kesah mu selama kerja tapi aku tidak bisa mendengarkan semua celotehan mu lagi. Saat aku menenangkan emosi mu yang walaupun tidak meledak tapi aku tau kalau kamu hanya butuh didengarkan.
Hai kamu. Ingat kah kamu? Saat aku selalu bilang "aku rindu" dan dengan ajaib nya kamu bilang "jangan. Berat. Kaya kamu" hahaha aku masih selalu tertawa bahkan tersenyum saat kembali membaca semua pesan pesan kita yang lalu. Iya! Aku masih menyimpannya. Bahkan foto kebersamaan kita. Aku masih simpan dengan rapi.
Kamu tau? Saat aku membaca pesan pesan kita yang lalu, dari awal kita memulai percakapan sampai akhirnya kita pisah, aku tertawa, aku tersenyum, dan aku menangis sendiri. Tuh kan. Aku mulai nangis.
Aku ingat, waktu aku nangis di bahu kamu, aku tutup muka ku dengan kedua tanganku. Kamu hanya terus bertanya "kamu kenapa" aku hanya menggelengkan kepala dan menangis. Kamu cium kepala aku, dan kamu bilang "mau denger cerita lucu gak?" aku hapus air mata ku. Dan kamu bilang "pas lagi sedih tadi, mbak mbak itu pas nangis maskaranya luntur, udah tau lagi sedih jadi gabisa ikut sedih jadi pengen ketawa karna liat maskaranya luntur" kamu tertawa. Dan aku ikut ketawa.
Terima kasiih.. Terima kasih karna kamu berusaha untuk membuat aku senyum membuat aku bahagia.
Kamu juga harus tau. Cuma kamu satu satunya laki laki yang aku kenalkan sama orang tua dan saudara saudara aku. Bahkan sahabat aku pun bilang "lo kenapa? Lo kan anti ngenalin cowok ke orang tua lo. Kok lo aneh" iya ya? Aku ga pernah kenalin laki laki ke orang tua apalagi aku bilang "dia pacar ku" tapi kamu satu satunya yang aku kenalin. Hehe berarti kamu tau kan betapa spesialnya kamu di hidup aku.
Dibanding dengan temen temen aku yang lain. Saat orang tua ku tanya "itu siapa?" aku selalu jawab "temen" dan selalu sama jawabnya temen. Kenapa saat aku kenalin kamu ke orang tua, aku bilang kamu pacar aku? Karna aku serius sama kamu. Karna bagi aku, kamu bisa bikin aku seneng bikin aku bahagia. Hehe just simple like that.
Tapi sekarang, aku cuma bisa doain kamu dari jauh. Jangan benci aku, aku mohon. Aku gabisa liat orang yang aku sayang, benci sama aku. Serius, aku sayang kamu. Belum berubah dan belum berkurang. Masih sama seperti pertama kali aku bilang "jangan sia siain kepercayaan yang udah gue kasih"
Last but not least
Hai kamu. Terima kasih pernah mewarnai hidup ku dengan penuh kebahagiaan. Terima kasih karna aku tau kalau kamu sayang aku dengan semua sikap manis mu. Terima kasih karna selalu berusaha membuat aku tertawa apapun kondisi ku. Dan maaf, atas keputusanku yang mungkin membuat mu jadi benci dengan ku.
Aku sayang kamu.
Ttd
-yang pernah mengisi harimu-
Murni
Komentar
Posting Komentar